Desah nafas yang kuhembuskan pagi ini terasa tak bermakna. Serasa hilang ditelan kelamnya pagi ini. Serasa awan hitam akan kembali menangisi bumi lagi. Aku tak beranjak dari tempat ini, dimana tempat kuberbaring dengan tubuh yang tak lagi mampu kugerakkan dengan tenagaku yang hampir mati.
Aku bersama bayang-bayang sosok yang kurindukan didalam masa. Aku terpejam, seakan tak mampu untuk membuka mata sipit ini, aku hanya mampu membuka fikiran dan hatiku. Jika ada yang memanggilku, dengungku masih mampu untuk mendengarnya, namun bibirku tak mampu untuk berkucap menjawab panggilan itu.
Ibu memanggilku, adik menangisiku, dan semua yang ada didekatku dan apapun itu, tak ku hiraukan, aku tak perduli dengan semua itu kawan.. Aku lelah dengan sandiwara ini! Aku ingin pergi, pergi meninggakan semua ini. Aku ingin pergi menemui dia yang kurindukan saat ini. Aku terpejam dan tak menghiraukan semua ini hanya karena dia, dia yang telah mampu membiusku hingga aku berdosa kepada ibuku.
Hingga hujan benar-benar turun membasahi bumi, yang membuatku semakin lelap dalam memejamkan mata. Seolah membujukku untuk terus bermimpi tentang dia. Dia, ya...memang dia yang berdiri diujung timur sana. Aku berbisik kepada hujan, benar-benar berbisik agar semua yang ada disampingku tidak mampu untuk mendengar bisikan apa yang kukatakan. Aku membisikkan sesuatu, bahwa aku merindukan dia, tolong sampaikan desahan rinduku saat ini kepadanya.
Desahan-desahan rindu yang kurasakan mungkin tak akan sampai bila hujan tak berjalan menuju ujung timur sana, melewati sepanjang jalan yang akan ia tangisi.
Jika itu memang tak akan mungkin, tapi aku terus untuk mendesahkan rinduku untuknya dalam mendung pagi ini...
Salam kerinduan untukmu.
Fitania Putri
9 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar