Minggu, 15 November 2015

Selamat Pagi Cinta


Desah nafas ini harum meradang
Dengan musim semi yang kini segar merekah
Ranum mengalahkan segala keputusasaan manusia
Tertulis sebuah kalimat pada daun yang terkoyak;
'Selamat pagi cinta...harapanku tak kan sirna'


Sumber: https://dfoenism.wordpress.com

Kamis, 12 November 2015

Langit Senja

Sunset
Kawan, aku teronggok sendiri diatap rumah, memandang langit. Senja. Merah jingga, tampak merah darah bagiku. Beberapa hari yang lalu aku mendapat sebuah pesan sehabis maghrib, mengabarkan betapa cantiknya dan mempesonanya langit yang menjelang malam itu. Maka, inilah ritual baru beberapa hari ini, yang kulakukan setelah maghrib selesai dengan tugasnya. Naik keatas atap, merenung, menatap langit arah ufuk barat, yang agak condong keselatan, langit bagai dilipat-lipat. Mengingatkanku lebih keras daripada berita-berita kematian yang berkumandang lewat corong speaker Masjid. Mendepak pikiran dengan pelbagai hal yang menjadi sihir dunia. Menjentikkan ingatan yang selalu saja kabur bahwa hidup seperti berlomba dengan waktu.

Kawan, kadang aku membayangkan memandang langit bakda maghrib ini dengan menghisap rokok. Kata orang, konon nikmat. Sayangnya aku tidak merokok dan bukan seorang perokok. Yang kutahu, saat ritual ini kulakukan, tak pernah kupakai kacamataku. Aku ingin mataku telanjang saat kreasi mengagumkan itu tertangkap retinaku. Biar apa adanya aku ingin.

Kawan, masih, aku menatap nanar pada cahaya itu, disertai banyak suara berisik dari tetangga , entah itu obrolan gosip, suara televisi yang di setel keras-keras, suara speaker yang melantunkan lagu dangdut, dan suara lembut gemerisik angin, atau degup kencang nadi yang kurasakan tanpa sempat memikirkannya. Inilah suplementku setelah subuh. Cahaya yang terlahir dan cahaya yang mati untuk terlahir kembali esok hari, walau kini tanpa pertanda kokok ayam. Menyadarkan diri bahwa yang terlahir akan mati. Dan akan ada seorang yang lahir lagi tiap harinya yang juga kemudian ditiupkan sangkakala kecil untuknya suatu hari.

Untuk sang pengabar pesan tentang langit itu, aku berterimakasih.




Sumber: https://dfoenism.wordpress.com



Selasa, 10 November 2015

Salam-ku


Ku titip salam dimalam hujan yang kelam
Tetes-tetes air yang berjatuhan kudengar seperti rintihan
Kudengar dengung-dengung nyamuk yang ikut bersuara

Sunyi

Kelam

Aku teronggok sendiri didalamnya
Melintasi waktu
Ku titihkan sedikit air dari mataku

Mati

Kudengar dengan tiba-tiba
Hembusan angin yang bernyanyian
di dalam sunyi kelam dan mati
yang mungkin mampu menghidupkan kekosongan ini kembali



Fitania Putri
11 November 2015

Minggu, 08 November 2015

Elegy dalam Mendung Pagi


     Desah nafas yang kuhembuskan pagi ini terasa tak bermakna. Serasa hilang ditelan kelamnya pagi ini. Serasa awan hitam akan kembali menangisi bumi lagi. Aku tak beranjak dari tempat ini, dimana tempat kuberbaring dengan tubuh yang tak lagi mampu kugerakkan dengan tenagaku yang hampir mati.

     Aku bersama bayang-bayang sosok yang kurindukan didalam masa. Aku terpejam, seakan tak mampu untuk membuka mata sipit ini, aku hanya mampu membuka fikiran dan hatiku. Jika ada yang memanggilku, dengungku masih mampu untuk mendengarnya, namun bibirku tak mampu untuk berkucap menjawab panggilan itu.

     Ibu memanggilku, adik menangisiku, dan semua yang ada didekatku dan apapun itu, tak ku hiraukan, aku tak perduli dengan semua itu kawan.. Aku lelah dengan sandiwara ini! Aku ingin pergi, pergi meninggakan semua ini. Aku ingin pergi menemui dia yang kurindukan saat ini. Aku terpejam dan tak menghiraukan semua ini hanya karena dia, dia yang telah mampu membiusku hingga aku berdosa kepada ibuku.

    Hingga hujan benar-benar turun membasahi bumi, yang membuatku semakin lelap dalam memejamkan mata. Seolah membujukku untuk terus bermimpi tentang dia. Dia, ya...memang dia yang berdiri diujung timur sana. Aku berbisik kepada hujan, benar-benar berbisik agar semua yang ada disampingku tidak mampu untuk mendengar bisikan apa yang kukatakan. Aku membisikkan sesuatu, bahwa aku merindukan dia, tolong sampaikan desahan rinduku saat ini kepadanya.

     Desahan-desahan rindu yang kurasakan mungkin tak akan sampai bila hujan tak berjalan menuju ujung timur sana, melewati sepanjang jalan yang akan ia tangisi.
Jika itu memang tak akan mungkin, tapi aku terus untuk mendesahkan rinduku untuknya dalam mendung pagi ini...
Salam kerinduan untukmu.




Fitania Putri
9 November 2015